|
|
|
|
|
|
|
|
|
(Dan) artikel/nasihat
yang keempat (dari
Usman radhiyallahu 'anhu:
"Barang siapa yang meninggalkan dunia), dengan
cara meminimalkan rasa kenyang serta porsi makan, dan membenci pujian dari manusia, maka Allah Ta'ala akan mencintainya") karena ia telah
meninggalkan sifat riya (pamer) dan saling menyombongkan diri. (Andai barang siapa yang meninggalkan dosa-dosa, maka para malaikat akan mencintainya") karena ia
tidak melelahkan para malaikat pencatat yang bertugas menuliskan keburukan-keburukan. (Dan barang
siapa yang memutuskan sifat tamak terhadap
kaum muslimin") artinya memutus
rasa berharap pada apa
yang dimiliki mereka, (maka kaum muslimin
akan mencintainya")
karena ia tidak mengeruhkan atau menyusahkan hati mereka. |
|
(و)
المقالة
الرابعة
(عَنْ
عُثْمَانَ
رَضِيَ اللَّهُ
عَنْهُ:
"مَنْ تَرَكَ
الدُّنْيَا)
بأن أقل
الشبع
والأكل
وأبغض
الثناء من
الناس أَحَبَّهُ
اللهُ
تَعَالَى
لأنه ترك
الرياء والتفاخر
(وَمَنْ
تَرَكَ
الذُّنُوبَ
أَحَبَّهُ
المَلائِكَةُ
لأنه لا يتعب
الكتبة
الذين يكتبون
السيئات
(وَمَنْ
حَسَمَ
الطَّمَعَ
عَنِ المُسْلِمِينَ)
أي قطعه عنهم
(أَحَبَّهُ
المُسْلِمُونَ"
لأنه لا يكدر
قلوبهم |
|
|
|
|
|
Catatan Tambahan (Syarah
& Konteks) Untuk membantu memahami
maksud teks di atas (yang biasanya bersumber dari kitab Nashaihul Ibad karya Syekh Nawawi Al-Bantani), berikut adalah poin-poin pentingnya:
|
||
|
|
|
|
|
(Dan) artikel/nasihat yang kelima (dari Ali radhiyallahu
'anhu) dan semoga
Allah memuliakan wajahnya:
("Sungguh, di antara kenikmatan dunia, cukuplah
Islam sebagai nikmat bagimu"), karena sesungguhnya nikmat Allah yang
paling agung bagi seorang
hamba adalah dikeluarkan dirinya dari ketiadaan menjadi ada, serta dikeluarkan
dirinya dari kegelapan kekufuran menuju cahaya Islam. ("Dan
sungguh, di antara kesibukan, cukuplah ketaatan sebagai kesibukan bagimu"), karena taat kepada
Allah Ta'ala merupakan seagung-agungnya kesibukan. ("Dan
sungguh, di antara pelajaran") artinya
nasihat/peringatan, ("cukuplah kematian sebagai pelajaran bagimu"), karena sesungguhnya kematian adalah peringatan yang paling besar bagi manusia. |
|
(و)
المقالة
الخامسة
(عَنْ
عَلِيَّ
رَضِيَ اللهُ
عَنْهُ) وكرم
وجهه (إِنَّ
مِنْ
نَعِيمِ الدُّنْيَا
يَكْفِيكَ
الإِسْلَامُ
نِعْمَةً فإن
أعظم نعم
الله للعبد
إخراجه من
العدم إلى الوجود،
وإخراجه من
ظلمات الكفر
إلى نور الإسلام
(وَإِنَّ
مِنَ الشُّغْلِ
يَكْفِيكَ
الطَّاعَةُ
شُغلاً فطاعة
الله تعالى
أعظم
الإستغال
(وَإِنَّ
مِنَ العِبْرَةِ)
أي العِظة
يَكْفِيكَ
المَوْتُ عِبْرَةً
فإن الموت
أكبر
المواعظ
للناس |
|
|
|
|
Catatan Tambahan (Syarah & Konteks)
Nasihat dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib ini menekankan tiga pilar utama dalam memandang kehidupan:
Nikmat Terbesar (Islam): Kita sering
kali sibuk mencari nikmat materi, padahal nikmat menjadi seorang muslim dan diberi kehidupan adalah fondasi dari segala kebahagiaan yang sejati.
Kesibukan Terbaik (Taat): Manusia selalu sibuk dengan urusan dunia yang tiada habisnya. Nasihat ini mengingatkan agar kita menjadikan ibadah dan ketaatan sebagai prioritas kesibukan utama yang paling bernilai.
Guru Terbaik (Kematian): Tidak ada nasihat
yang lebih membekas dan mampu melunakkan hati yang keras selain mengingat kematian. Kematian adalah pemutus kelezatan dunia sekaligus pengingat untuk mempersiapkan bekal akhirat. |
||
|
|
|
|
|
(Dan) artikel/nasihat yang keenam (dari
Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu
'anhu: "Betapa banyak orang yang ditarik sedikit demi sedikit menuju kehancuran [istidraj]") artinya dihukum secara perlahan-lahan (dengan nikmat)
berupa melimpahnya nikmat (yang
diberikan kepadanya. Dan betapa banyak orang yang terfitnah) artinya diuji dengan cobaan (dengan pujian) berupa banyaknya pujian manusia (kepadanya.
Dan betapa banyak orang
yang tertipu) artinya
hatinya merasa tenang di dunia dan lalai terhadap akhirat (dengan penutupan [aib]) berupa cara Allah menutupi dosa dan kekurangannya (atas dirinya"). |
|
(و)
المقالة
السادسة
(عَنْ عَبْدِ
اللَّهِ بْنِ
مَسْعُودٍ
رَضِيَ
اللَّهُ
عَنْهُ: كَمْ
مِنْ
مُسْتَدْرَج
أي مأخوذ
قليلا قليلا
(بالنغمة)
بإكثارها
(عَلَيْهِ،
وَكَمْ مِنْ
مَفْتُوْنٍ)
أي ممتحن
بالبلاء
(بالثناء) أي
بكثرة ثناء
الناس
(عَلَيْهِ،
وَكَمْ مِنْ
مَغْرُورٍ
أَي مطمئن
قلبه في
الدنيا
وغافل عن الآخرة
(بالتستر ) أي
بستر الله
عيوبه
(عَلَيْهِ) |
|
|
|
|
Catatan Tambahan
(Syarah & Konteks)
Nasihat dari
Sahabat Ibnu Mas'ud ini merupakan
peringatan keras agar manusia tidak tertipu oleh tiga hal yang tampak sebagai kebaikan, padahal bisa menjadi ujian yang membinasakan jika tidak disikapi dengan rasa syukur dan mawas diri:
Istidraj (Jebakan Nikmat): Ketika seseorang terus bermaksiat namun rezeki dan urusan dunianya semakin lancar, itu bukanlah
tanda kasih sayang Allah, melainkan istidraj pemberian nikmat yang membuatnya semakin lalai hingga akhirnya diazab secara tiba-tiba.
Terfitnah Pujian: Pujian
manusia sering kali menjadi racun bagi hati. Banyak orang binasa karena merasa dirinya sudah baik akibat
sanjungan orang lain, sehingga
ia berhenti memperbaiki diri dan terjangkit sifat sombong.
Tertipu oleh Tirai Aib: Allah Maha Pengampun dan Maha Menutupi kehinaan hambanya (Al-Sattar). Namun, sebagian orang justru menyalahgunakan kebaikan Allah ini dengan terus berbuat dosa secara sembunyi-sembunyi, merasa aman dari
siksa, dan lupa bahwa suatu saat
tirai tersebut bisa dibuka jika
ia tidak bertobat. |
||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Jumat, 22 Mei 2026
MAQOLAH KE 4-6
Langganan:
Postingan (Atom)