Pada malam ke-21 Ramadhan, kajian disampaikan langsung oleh Kiyai Badrun selaku Pengasuh MATAWALI. Dalam kesempatan tersebut, beliau melanjutkan pembahasan Kitab Nashoihul ‘Ibad hingga sampai pada maqolah ke-27, sebuah nasihat ulama yang sarat dengan hikmah tentang hakikat ibadah, makna zuhud, serta kekayaan sejati dalam kehidupan seorang muslim.
Kajian ini menjadi salah satu rangkaian penting dalam kegiatan Ramadhan MATAWALI yang bertujuan memperdalam pemahaman keagamaan sekaligus memperkuat spiritualitas jamaah di bulan penuh berkah.
Hakikat Ibadah dalam Perspektif Ulama
Dalam maqolah ke-27 Kitab Nashoihul ‘Ibad, disebutkan sebuah nasihat yang sangat mendalam maknanya:
“Kerjakanlah apa yang telah diwajibkan oleh Allah kepadamu, maka kamu akan menjadi orang yang paling banyak beribadah. Jauhilah apa yang dilarang oleh Allah, maka kamu akan menjadi orang yang paling zuhud. Dan ridhalah terhadap apa yang telah diberikan Allah kepadamu, maka kamu akan menjadi orang yang paling kaya.”
Nasihat ini mengandung tiga prinsip utama dalam kehidupan seorang muslim, yaitu menunaikan kewajiban, menjauhi larangan, dan memiliki sikap qana’ah.
Menurut penjelasan Kiyai Badrun, seringkali manusia memahami ibadah hanya sebatas memperbanyak amalan sunnah seperti shalat sunnah, puasa sunnah, atau dzikir tertentu. Padahal dalam ajaran Islam, menunaikan kewajiban adalah bentuk ibadah yang paling utama.
Allah SWT berfirman:
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.”(QS. Adz-Dzariyat: 56)
Ayat ini menunjukkan bahwa tujuan utama penciptaan manusia adalah untuk beribadah kepada Allah SWT. Ibadah tersebut dimulai dari menjalankan kewajiban yang telah ditetapkan oleh syariat.
Hal ini juga ditegaskan dalam hadis qudsi Rasulullah ﷺ:
“Tidaklah seorang hamba mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa yang Aku wajibkan kepadanya.”(HR. Bukhari)
Dengan demikian, seseorang yang mampu menjaga kewajiban seperti shalat lima waktu, puasa Ramadhan, zakat, serta kewajiban lainnya, sejatinya telah menempuh jalan ibadah yang paling dicintai oleh Allah SWT.
Zuhud: Bukan Meninggalkan Dunia
Pesan kedua dalam maqolah tersebut adalah tentang zuhud, yaitu menjauhi segala hal yang dilarang oleh Allah SWT.
Dalam kajian tersebut dijelaskan bahwa zuhud tidak berarti meninggalkan dunia sepenuhnya atau hidup dalam kemiskinan. Zuhud adalah sikap hati yang tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utama kehidupan.
Seorang muslim boleh bekerja, memiliki harta, dan menikmati karunia Allah. Namun ia tetap menjaga dirinya dari hal-hal yang diharamkan serta tidak menjadikan dunia sebagai sesuatu yang menguasai hatinya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Bersikap zuhudlah terhadap dunia, niscaya Allah mencintaimu. Dan bersikap zuhudlah terhadap apa yang dimiliki manusia, niscaya manusia mencintaimu.”(HR. Ibnu Majah)
Dalam konteks kehidupan modern, sikap zuhud sangat penting untuk menjaga keseimbangan antara kehidupan dunia dan akhirat. Seorang muslim dituntut untuk bekerja keras, tetapi tetap menjaga integritas, kejujuran, dan ketakwaan kepada Allah SWT.
Qana’ah: Kekayaan yang Sesungguhnya
Pesan ketiga dalam maqolah tersebut adalah tentang qana’ah, yaitu sikap menerima dan merasa cukup dengan apa yang telah diberikan Allah SWT.
Menurut Kiyai Badrun, kekayaan dalam Islam tidak diukur dari banyaknya harta yang dimiliki seseorang. Kekayaan sejati adalah ketenangan dan kecukupan hati.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta, tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah kekayaan jiwa.”(HR. Bukhari dan Muslim)
Sikap qana’ah akan melahirkan berbagai keutamaan dalam kehidupan seseorang, di antaranya:
-
tumbuhnya rasa syukur kepada Allah SWT,
-
terhindar dari sifat iri dan dengki,
-
serta terciptanya ketenangan dalam menjalani kehidupan.
Orang yang memiliki sikap qana’ah akan mampu melihat setiap nikmat sebagai karunia Allah, sehingga hidupnya selalu dipenuhi dengan rasa syukur.
Ramadhan sebagai Momentum Perbaikan Diri
Dalam penutup kajiannya, Kiyai Badrun menegaskan bahwa pesan dalam maqolah ke-27 ini sangat relevan dengan momentum bulan Ramadhan. Ramadhan merupakan waktu yang tepat bagi umat Islam untuk memperbaiki diri, meningkatkan kualitas ibadah, serta membersihkan hati dari sifat-sifat tercela.
Melalui kegiatan kajian rutin ini, jamaah MATAWALI diajak untuk tidak hanya memperbanyak ibadah secara kuantitas, tetapi juga memperbaiki kualitas keimanan dan akhlak dalam kehidupan sehari-hari.
Suasana kajian berlangsung dengan penuh kekhidmatan. Para jamaah mengikuti penjelasan materi dengan antusias hingga akhir kegiatan. Diskusi dan penjelasan yang disampaikan memberikan pemahaman mendalam mengenai nilai-nilai spiritual yang terkandung dalam Kitab Nashoihul ‘Ibad.
Menghidupkan Tradisi Keilmuan di Bulan Ramadhan
Kegiatan Kajian Ramadhan MATAWALI menjadi bagian dari upaya menghidupkan tradisi keilmuan Islam di tengah masyarakat. Majelis ilmu seperti ini tidak hanya menjadi sarana menambah wawasan keagamaan, tetapi juga menjadi media memperkuat ukhuwah Islamiyah antar jamaah.
Dengan semangat Ramadhan, diharapkan nilai-nilai yang disampaikan dalam kajian tersebut dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga melahirkan pribadi muslim yang taat beribadah, bersikap zuhud, serta memiliki hati yang qana’ah.
Semoga majelis ilmu ini terus menjadi sumber keberkahan dan cahaya ilmu bagi seluruh jamaah MATAWALI serta masyarakat luas.
