MAQOLAH KE 4-6

Bismillāhirraḥmānirraḥīm. Kitab Nashā’iḥul ‘Ibād karya Imam Nawawi al-Bantani merupakan salah satu kitab yang kaya dengan nasihat, hikmah, dan tuntunan bagi seorang hamba dalam menata kehidupan menuju rida Allah SWT. Pada halaman ini disajikan pembahasan Maqolah ke-4 sampai ke-6, yang memuat nasihat-nasihat berharga tentang bagaimana seorang Muslim mengenali tanda kecintaan kepada Allah, menghiasi diri dengan kesabaran dan kesyukuran, serta senantiasa berserah diri kepada-Nya.

Tiga maqolah tersebut mengajak kita untuk tidak hanya memahami ilmu secara teori, tetapi juga mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Cinta kepada Allah harus tercermin dalam ketaatan, kesabaran menjadi kekuatan ketika menghadapi ujian, sedangkan syukur menjadikan nikmat semakin bermakna. Pada akhirnya, seorang hamba dituntun untuk senantiasa bertawakal dan menyerahkan segala urusannya kepada Allah SWT. Semoga pembahasan Nashā’iḥul ‘Ibād ini menjadi tambahan ilmu yang bermanfaat, melembutkan hati, dan mendorong kita untuk memperbaiki amal serta akhlak dalam kehidupan sehari-hari.

 

 

 

 

 

 

(Dan) artikel/nasihat yang keempat (dari Usman radhiyallahu 'anhu: "Barang siapa yang meninggalkan dunia), dengan cara meminimalkan rasa kenyang serta porsi makan, dan membenci pujian dari manusia, maka Allah Ta'ala akan mencintainya") karena ia telah meninggalkan sifat riya (pamer) dan saling menyombongkan diri.

(Andai barang siapa yang meninggalkan dosa-dosa, maka para malaikat akan mencintainya") karena ia tidak melelahkan para malaikat pencatat yang bertugas menuliskan keburukan-keburukan.

(Dan barang siapa yang memutuskan sifat tamak terhadap kaum muslimin") artinya memutus rasa berharap pada apa yang dimiliki mereka, (maka kaum muslimin akan mencintainya") karena ia tidak mengeruhkan atau menyusahkan hati mereka.

 

 

(و) المقالة الرابعة (عَنْ عُثْمَانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: "مَنْ تَرَكَ الدُّنْيَا) بأن أقل الشبع والأكل وأبغض الثناء من الناس أَحَبَّهُ اللهُ تَعَالَى لأنه ترك الرياء والتفاخر (وَمَنْ تَرَكَ الذُّنُوبَ أَحَبَّهُ المَلائِكَةُ لأنه لا يتعب الكتبة الذين يكتبون السيئات (وَمَنْ حَسَمَ الطَّمَعَ عَنِ المُسْلِمِينَ) أي قطعه عنهم (أَحَبَّهُ المُسْلِمُونَ" لأنه لا يكدر قلوبهم

 

 

 

Catatan Tambahan (Syarah & Konteks)

Untuk membantu memahami maksud teks di atas (yang biasanya bersumber dari kitab Nashaihul Ibad karya Syekh Nawawi Al-Bantani), berikut adalah poin-poin pentingnya:

  • Meninggalkan Dunia: Yang dimaksud bukanlah meninggalkan aktivitas duniawi secara total, melainkan menahan hawa nafsu (disimbolkan dengan makan secukupnya) dan menjaga hati agar tidak haus akan pujian manusia.
  • Dicintai Malaikat: Berhenti berbuat dosa akan meringankan tugas malaikat Raqib dan Atid (khususnya pencatat amal buruk), sehingga mereka menyukai hamba tersebut.
  • Memutus Sifat Tamak: Tidak menggantungkan harapan atau ingin menguasai harta/hak milik orang lain. Ketika kita tidak menjadi beban atau ancaman bagi orang lain, hubungan sosial pun akan menjadi harmonis dan penuh cinta.

 

 

 

(Dan) artikel/nasihat yang kelima (dari Ali radhiyallahu 'anhu) dan semoga Allah memuliakan wajahnya: ("Sungguh, di antara kenikmatan dunia, cukuplah Islam sebagai nikmat bagimu"), karena sesungguhnya nikmat Allah yang paling agung bagi seorang hamba adalah dikeluarkan dirinya dari ketiadaan menjadi ada, serta dikeluarkan dirinya dari kegelapan kekufuran menuju cahaya Islam.

("Dan sungguh, di antara kesibukan, cukuplah ketaatan sebagai kesibukan bagimu"), karena taat kepada Allah Ta'ala merupakan seagung-agungnya kesibukan.

("Dan sungguh, di antara pelajaran") artinya nasihat/peringatan, ("cukuplah kematian sebagai pelajaran bagimu"), karena sesungguhnya kematian adalah peringatan yang paling besar bagi manusia.

 

(و) المقالة الخامسة (عَنْ عَلِيَّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ) وكرم وجهه (إِنَّ مِنْ نَعِيمِ الدُّنْيَا يَكْفِيكَ الإِسْلَامُ نِعْمَةً فإن أعظم نعم الله للعبد إخراجه من العدم إلى الوجود، وإخراجه من ظلمات الكفر إلى نور الإسلام (وَإِنَّ مِنَ الشُّغْلِ يَكْفِيكَ الطَّاعَةُ شُغلاً فطاعة الله تعالى أعظم الإستغال (وَإِنَّ مِنَ العِبْرَةِ) أي العِظة يَكْفِيكَ المَوْتُ عِبْرَةً فإن الموت أكبر المواعظ للناس

 

 

 

Catatan Tambahan (Syarah & Konteks)

Nasihat dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib ini menekankan tiga pilar utama dalam memandang kehidupan:

<![if !supportLists]>        <![endif]>Nikmat Terbesar (Islam): Kita sering kali sibuk mencari nikmat materi, padahal nikmat menjadi seorang muslim dan diberi kehidupan adalah fondasi dari segala kebahagiaan yang sejati.

<![if !supportLists]>        <![endif]>Kesibukan Terbaik (Taat): Manusia selalu sibuk dengan urusan dunia yang tiada habisnya. Nasihat ini mengingatkan agar kita menjadikan ibadah dan ketaatan sebagai prioritas kesibukan utama yang paling bernilai.

<![if !supportLists]>        <![endif]>Guru Terbaik (Kematian): Tidak ada nasihat yang lebih membekas dan mampu melunakkan hati yang keras selain mengingat kematian. Kematian adalah pemutus kelezatan dunia sekaligus pengingat untuk mempersiapkan bekal akhirat.

 

 

 

(Dan) artikel/nasihat yang keenam (dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu: "Betapa banyak orang yang ditarik sedikit demi sedikit menuju kehancuran [istidraj]") artinya dihukum secara perlahan-lahan (dengan nikmat) berupa melimpahnya nikmat (yang diberikan kepadanya. Dan betapa banyak orang yang terfitnah) artinya diuji dengan cobaan (dengan pujian) berupa banyaknya pujian manusia (kepadanya. Dan betapa banyak orang yang tertipu) artinya hatinya merasa tenang di dunia dan lalai terhadap akhirat (dengan penutupan [aib]) berupa cara Allah menutupi dosa dan kekurangannya (atas dirinya").

 

 

(و) المقالة السادسة (عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: كَمْ مِنْ مُسْتَدْرَج أي مأخوذ قليلا قليلا (بالنغمة) بإكثارها (عَلَيْهِ، وَكَمْ مِنْ مَفْتُوْنٍ) أي ممتحن بالبلاء (بالثناء) أي بكثرة ثناء الناس (عَلَيْهِ، وَكَمْ مِنْ مَغْرُورٍ أَي مطمئن قلبه في الدنيا وغافل عن الآخرة (بالتستر ) أي بستر الله عيوبه (عَلَيْهِ)

 

 

 

Catatan Tambahan (Syarah & Konteks)

Nasihat dari Sahabat Ibnu Mas'ud ini merupakan peringatan keras agar manusia tidak tertipu oleh tiga hal yang tampak sebagai kebaikan, padahal bisa menjadi ujian yang membinasakan jika tidak disikapi dengan rasa syukur dan mawas diri:

<![if !supportLists]>        <![endif]>Istidraj (Jebakan Nikmat): Ketika seseorang terus bermaksiat namun rezeki dan urusan dunianya semakin lancar, itu bukanlah tanda kasih sayang Allah, melainkan istidraj pemberian nikmat yang membuatnya semakin lalai hingga akhirnya diazab secara tiba-tiba.

<![if !supportLists]>        <![endif]>Terfitnah Pujian: Pujian manusia sering kali menjadi racun bagi hati. Banyak orang binasa karena merasa dirinya sudah baik akibat sanjungan orang lain, sehingga ia berhenti memperbaiki diri dan terjangkit sifat sombong.

<![if !supportLists]>        <![endif]>Tertipu oleh Tirai Aib: Allah Maha Pengampun dan Maha Menutupi kehinaan hambanya (Al-Sattar). Namun, sebagian orang justru menyalahgunakan kebaikan Allah ini dengan terus berbuat dosa secara sembunyi-sembunyi, merasa aman dari siksa, dan lupa bahwa suatu saat tirai tersebut bisa dibuka jika ia tidak bertobat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Berita terkait